
Sore itu, saya duduk di sebuah warung kopi kecil di sebuah desa di Cikarang tak jauh dari sekolah negeri yang cat dindingnya mulai pudar. Obrolan mengalir pelan, tanpa istilah kebijakan atau angka anggaran. Seorang guru honorer bercerita tentang murid-muridnya-tentang kegembiraan kecil di kelas, tentang penghasilan yang sering tak pasti, dan tentang lelah yang harus disimpan rapi agar tak sampai ke hadapan anak-anak.
Di meja yang sama, petani penggarap dan pedagang kecil ikut menyimak; bukan karena mereka paham dunia pendidikan, melainkan karena nasib guru itu berkelindan dengan kehidupan mereka sehari-hari. Dari warung kopi di desa Cikarang itulah, pendidikan terasa sebagai perkara manusia-bukan sekadar baris angka.
Dari percakapan sederhana itu, pertanyaan yang lebih besar mengemuka: apa yang sesungguhnya sedang kita bangun ketika negara menganggarkan dana untuk sekolah-gedung, atau masa depan? Pertanyaan ini layak diajukan kembali, terutama ketika pendidikan masih kerap diperlakukan sebagai beban fiskal, bukan sebagai investasi jangka panjang yang menentukan arah sebuah bangsa.