Saya sering membaca tulisan-tulisan Ray Dalio–buku-bukunya yang tebal dan tenang, esai-esainya yang dingin, hingga tulisan panjangnya yang belakangan ia unggah di media sosial X. Dari sana saya belajar satu hal: Dalio tidak menulis untuk menghibur, ia menulis untuk membongkar.
Ia tidak meramal masa depan, melainkan membuka pola masa lalu yang berulang dengan wajah berbeda. Karena itu, ketepatan gagasan dan prediksinya terasa bukan seperti kebetulan, melainkan akibat dari kesetiaan membaca sejarah sebagai siklus-bukan sebagai kisah heroik yang selesai.
Dalam buku dan tulisannya, Dalio memberi arah yang melampaui ekonomi. Ia berbicara tentang peradaban: bagaimana negara bangkit ketika mampu menyeimbangkan kekuatan dan keadilan; bagaimana ia runtuh ketika ketimpangan dibiarkan, legitimasi menguap, dan rakyat merasa hidup di sistem yang bukan milik mereka.