
Bulan Ramadhan selalu menghadirkan ruang refleksi yang khas dalam kehidupan bangsa. Ia bukan sekadar momentum spiritual, melainkan juga fase sosial-ekonomi yang sarat makna. Dalam tradisi masyarakat Indonesia, Ramadhan menghadirkan dinamika konsumsi, mobilitas, solidaritas sosial, hingga peningkatan aktivitas ekonomi berbasis komunitas. Karena itu, memandang Ramadhan hanya sebagai periode perlambatan produktivitas adalah cara pandang yang terlalu sempit. Justru sebaliknya, dengan pengelolaan yang tepat, bulan suci ini dapat menjadi akselerator pertumbuhan ekonomi nasional.
Pengalaman berbagai tahun sebelumnya menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi selama Ramadhan dan Idulfitri mampu menciptakan efek berganda (multiplier effect) yang signifikan. Sektor perdagangan, transportasi, pariwisata domestik, industri makanan-minuman, Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM), hingga ekonomi kreatif mengalami peningkatan permintaan. Fenomena ini memperlihatkan bahwa konsumsi masyarakat bukan sekadar aktivitas belanja, melainkan bagian dari siklus ekonomi yang menggerakkan produksi, distribusi, pertumbuhan ekonomi, dan penciptaan lapangan kerja.
Data resmi yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa fondasi ekonomi Indonesia saat ini masih kuat. Badan Pusat Statistik mencatat perekonomian Indonesia sepanjang 2025 tumbuh 5,11 persen, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan 2024 sebesar 5,03 persen, dengan nilai PDB mencapai Rp23.821,1 triliun dan PDB per kapita sekitar Rp83,7 juta. Angka ini bukan sekadar statistik; ia menggambarkan bahwa mesin produksi nasional tetap bergerak dan permintaan domestik tetap terjaga. Bahkan pada triwulan IV-2025, ekonomi tumbuh 5,39 persen (y-on-y) yang menjadi indikator bahwa momentum pertumbuhan tetap kuat menjelang tahun berikutnya.