
Setiap menjelang Lebaran, ada dua hal yang sudah bisa dipastikan terjadi: jalanan padat dan hotel penuh. Tidak perlu survei canggih untuk membuktikannya, cukup cek pemesanan kamar di aplikasi perjalanan, dan Anda akan menemukan tanda “habis terjual” hampir di setiap destinasi wisata favorit. Ini bukan kejutan. Ini adalah siklus tahunan yang sudah bisa diprediksi jauh-jauh hari.
Namun justru di sinilah letak ironisnya. Jika lonjakan wisatawan sudah pasti terjadi, semestinya lonjakan penerimaan pajak pariwisata daerah pun ikut melonjak sebanding. Kenyataannya? Tidak selalu demikian. Kebocoran pajak hotel, restoran, dan parkir di daerah-daerah wisata terus berulang, seolah menjadi tradisi yang sama abadinya dengan tradisi mudik itu sendiri.
Inilah yang saya sebut sebagai Lebaranomics. Sebuah fenomena ekonomi di mana momen Lebaran secara serentak menggerakkan perjalanan, konsumsi, dan transaksi dalam skala masif, tetapi potensi fiskalnya belum pernah benar-benar dioptimalkan oleh pemerintah daerah.