
Di Jakarta, nama bukan sekadar nama. Ia bisa menjadi jalan, bisa menjadi ingatan, bisa menjadi arah. Dan di antara semua nama yang menjelma jalan, ada satu yang terasa paling mewakili kehendak kota. Namanya, MH Thamrin.
Ia bukan jenderal. Bukan presiden. Ia bukan pemimpin revolusi dengan pidato berapi-api. Ia adalah seorang Betawi yang berpikir tentang kota.
Muhammad Husni Thamrin lahir pada 1894, di Batavia yang masih terbelah-belah. Antara Eropa di atas, Timur Asing di tengah, pribumi di bawah. Kota, saat itu, bukan hanya dibangun dari batu dan kanal, tapi juga dari ketimpangan yang dalam. Jalan lebar hanya untuk yang memerintah, gang sempit untuk yang diperintah. Air bersih untuk sebagian, hamparan wabah untuk yang lain.