Berita Bisnis dan Investasi Terpadu
Berita  

Deepfake dan Arah Kebahagiaan Manusia – Update 1

Deepfake dan Arah Kebahagiaan Manusia - Update 1
Deepfake dan Arah Kebahagiaan Manusia – Update 1

Berbahagiakah manusia ketika teknologi mampu meretas batas kehidupan, sehingga membebaskannya dari kematian? Hari ini secara teknologis, sangat mudah manusia yang telah meninggal “dihidupkan” kembali menggunakan deepfake. Jika yang disebut hidup itu memerlukan beberapa syarat, hasil produksi artificial intelligence (AI) ini mampu memenuhinya.

Syarat pertama: manusia hidup selalu berkomunikasi. One cannot not communicate. Ini adalah realitas, yang konsepnya diperkenalkan Paul Watzlawick, 1967, lewat buku yang ditulisnya bersama Janet Beavin Bavelas dan Don D. Jackson. Judulnya: “Pragmatics of Human Communication: A Study of Interactional Patterns, Pathologies, and Paradoxes”. Diuraikannya: dalam keadaan sadar –bahkan saat diam pun— manusia berkomunikasi. Setidaknya berkomunikasi dengan dirinya sendiri. Dalam keresahan, lamunan juga berangan-angan, manusia melangsungkan komunikasi. Karenanya, uraian Watzlawick dapat ditafsir: kemampuan berkomunikasi menjadi syarat cukup, agar manusia disebut manusia. Tanpanya, manusia bukanlah manusia. Setidaknya, tidak sedang hidup.

Deepfake menempuh syarat ini, lewat jejak digital yang dikumpulkan dari manusia, di masa hidupnya. Sumbernya, interaksi manusia itu dengan berbagai sarana digital –e-mail, aplikasi media sosial, aplikasi pekerjaan, aplikasi perbelanjaan, aplikasi pencarian informasi– yang dapat disusun menjadi bahan berkomunikasi. Machine learning memetakannya sebagai algoritma, yang menghimpun perilaku komunikasi manusia yang dihidupkan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *