Berita Bisnis dan Investasi Terpadu
Berita  

“Vis Pacem Para Bellum: Ketika Perang Menjadi Solusi untuk Perdamaian”

“Vis Pacem Para Bellum: Ketika Perang Menjadi Solusi untuk Perdamaian”

“Jika kau mendambakan perdamaian, bersiaplah untuk perang.” Kalimat itu bergema di ruang bioskop yang gelap saat John Wick—sang Baba Yaga—kembali mengangkat senjatanya di sekuel ketiga, Parabellum. Bagi sebagian besar penonton, kalimat itu terdengar gagah, sebuah pembenaran atas kekerasan demi mencapai titik tenang. Namun, saat kita melangkah keluar dari teater dan melihat tajuk berita hari ini, pepatah Latin ini tak lagi terasa seperti fiksi aksi. Ia terasa seperti peringatan yang menghantui.

Dari Selat Hormuz yang membara hingga padang rumput Ukraina yang hancur, dunia tampaknya sedang mengikuti diktum kuno ini dengan kepatuhan yang mematikan. Dunia menahan napas, menyaksikan bagaimana “persiapan perang” justru melahirkan perang itu sendiri. Tapi, benarkah kita memahami apa yang sebenarnya dimaksud oleh sang pencetus kalimat ini? Ataukah kita sedang terjebak dalam salah paham sejarah yang fatal?

Banyak yang mengira Si Vis Pacem Para Bellum adalah semboyan jenderal haus darah. Padahal, kalimat ini tidak berasal dari mulut seorang penakluk, melainkan dari pena seorang penulis teori militer Romawi bernama Publius Flavius Vegetius Renatus pada akhir abad ke-4 Masehi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *