Berita Bisnis dan Investasi Terpadu
Berita  

**Dari Slogan ke Sistem: Apakah Indonesia Mulai Lelah dengan ESG?**

**Dari Slogan ke Sistem: Apakah Indonesia Mulai Lelah dengan ESG?**
**Dari Slogan ke Sistem: Apakah Indonesia Mulai Lelah dengan ESG?**

Latar Belakang
Dalam beberapa tahun terakhir, istilah ESG semakin akrab di ruang rapat perusahaan Indonesia. Environmental, Social, Governance tidak lagi menjadi topik eksklusif forum global, tetapi masuk ke laporan tahunan, presentasi investor, hingga materi komunikasi publik. Bursa Efek Indonesia mendorong integrasi aspek keberlanjutan, OJK memperkuat kewajiban pelaporan, dan perusahaan-perusahaan besar berlomba menyatakan komitmen net-zero atau dekarbonisasi.
Fakta Penting
Namun di tengah intensitas itu, muncul pertanyaan yang jarang diucapkan dengan jujur: apakah publik mulai lelah dengan ESG? Sebuah survei menunjukkan bahwa 40% responden merasa terlalu banyak janji ESG yang tidak ditindaklanjuti. Ekspert di bidang keberlanjutan, Dr. Riyanto, mengatakan bahwa “kelebihan inisiatif ESG tanpa koordinasi yang baik bisa menyebabkan ketidakpercayaan publik.”
Dampak
ESG fatigue, atau kelelahan terhadap isu ESG, mulai terlihat di Indonesia. Beberapa perusahaan melaporkan penurunan minat investor terhadap laporan ESG, sementara masyarakat umum mulai meragukan komitmen perusahaan terhadap isu lingkungan dan sosial. Ini menjadi tantangan nyata bagi upaya pemerintah dan swasta dalam mendorong transformasi keberlanjutan.
Penutup
Dari slogan ke sistem, perjalanan ESG di Indonesia baru dimulai. Namun, tanpa upaya yang lebih konsisten dan transparan, risiko ESG fatigue hanya akan semakin meningkat. Bagaimana kita bisa menghindari kelelahan ESG dan menjaga komitmen jangka panjang? Jawabannya mungkin ada di dalam kualitas implementasi dan komunikasi yang lebih baik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *