
Usai melaporkan rasio perkembangan 166 Sekolah Rakyat di 34 provinsi, Menteri Sosial RI Saifullah Yusuf tampak tidak rasional lagi. Dengan baret merah menyala tanda kuatnya tekad dan kemeja putih bersih isyarat kesucian niat, Mensos yang awalnya gagah melangkah, hatinya mendadak rapuh justru di saat hendak menutup kata. Langkahnya berat. Barisan anak tangga seakan-akan menjauh. Jiwanya berguncang hebat. Suaranya lenyap di palung jiwa. Ia tak kuasa beruluk salam ikhtitam.
“Dan kelak ketika anak-anak di tepian sungai, di lereng bukit dan sudut-sudut negeri berdiri sejajar di tengah bangsa ini, orang akan berkata pelan, di masa itu pernah ada seorang presiden yang menanam harapan dan menamainya sekolah rakyat. Presiden itu adalah Jenderal TNI Purnawirawan Prabowo Subianto,” kata Mensos lirih. Hujan air mata dari pelosok negeri. Laskar air mata terbang ke awan, membasahi kemarau panjang jutaan jiwa kaum duafa.
Emosi Gus Ipul, sapaan Mensos itu hinggap di jiwa 15.945 siswa Sekolah Rakyat. Lalu menetap di jiwa sang penggagas, Presiden Prabowo, mantan panglima para komando yang “haram” menangis, mengaku tenggelam dalam haru.